Home ~ Artikel LDII ~ Motivasi ~ Menasehati sebab Menyayangi

Menasehati sebab Menyayangi

Dan memberilah nasehat (kamu Muhammad), karena sesungguhnya nasehat itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman (QS. adz-Dzariyat: 55)

Setiap manusia tempatnya salah dan lupa. Tidak ada manusia yang lepas dari melakukan kesalahan dan kelupaan. Tidak ada manusia yang terus menerus selalu baik dan tidak ada yang terus menerus tanpa sedikitpun lalai. Al imanu yazidu wayankhus (iman itu kadang naik juga kadang menurun). Naik karena ketaatan turun karena kemaksiatan. Kegiatan yang sia-sia seperti sibuk menonton televisi, sibuk dengan gadget, bersantai-santai, mengobrol selain kalimat dzikir walaupun bukan kemaksiatan bisa menyebabkan menurunnya keimanan. Iman itu bisa diibaratkan baterai Handphone, apabila dipakai terus menerus maka lama-lama akan habis maka harus berkala di charger keimanannya.

Iman bisa naik dan bertambah kembali selain dengan cara memperbanyak ibadah, memperbanyak berdzikir, memperbanyak mengaji (menimba ilmu agama) adalah dengan menghobikan mendengarkan nasehat. Setiap diri kita tanpa kita sadari tiba-tiba menurun kadar keimanannya. Nasehat berupa bashiron wanadziron akan menyadarkan kita akan tujuan hidup kita lagi. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S Saba (34) : 28. “Wa maa arsalnaka il-la kaf-fatan linasi basyiron wa nadziron walakinna aktsaron-nasi laa ya’lamuun”. “Tidaklah Kami (Allah SWT) mengutusmu (Muhammad SAW) kecuali bagi keseluruhan manusia, untuk memberi kabar gembira dan kabar menakutkan, dan sesungguhnya kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Nasehat dalam agama itu sangat penting sekali bahkan Addinu Nasihat (agama itu nasehat). Dalam kitab suci Al Qur’an kalau diambil saripatinya isinya tidak lebih berupa perintah, larangan dan cerita, didalam cerita itu ada hikmah nasehat. Nasehat itu manfaat bagi orang iman, nasehat itu sebagai peringatan bagi orang iman, nasehat itu menyadarkan orang iman dan nasehat itu menambah kefahaman orang iman. Nasehat itu disampaikan sesama orang iman bukan untuk menghakimi, bukan menjadikan diri merasa hina apabila mendapat nasehat tapi sebagai bentuk saling menyayangi sesama orang iman. Orang iman adakalanya siap memberi nasehat namun juga siap menerima nasehat. Yang memberi nasehat tidak merasa paling suci dari dosa, yang menerima nasehat tidak merasa paling rendah sebab dosa. Tapi nasehat adalah keharusan sebagai bentuk saling mencintai sesama orang iman agar sama-sama masuk surga terhindar dari beratnya api neraka.

Saling menasehati penting tapi harus tahu tata caranya. Adapun tata cara menasehati sesama orang iman tanpa menyakiti dan bisa menambah keimanan kita perlu memperhatikan hal-hal berikut ini :
1. Diniati karena Allah
Jangan lupa saat berkesempatan memberi nasehat, hatinya di tata semata-mata diniati karena Allah. Bukan merasa paling hafal dalil, bukan merasa ilmunya lebih, bukan merasa amalan paling banyak. Tapi semata-mata nasehat ini adalah kewajiban sesama orang iman
2. Minta ilham kepada Allah
Membaca doa yang diajarkan Nabi Muhammad. Allahumma alhimni rusydii wa a’idznii min syarri nafsi. “Ya Allah, berilah aku ilham ilham/petunjuk (baik) dan lindungilah aku dari jeleknya nafsuku.” Agar yang keluar dari mulut kita semata-mata ilham dari Allah bukan hawa nafsu.
3. Tidak bertujuan mempermalukan orang yang nasehati
Menasehati bukan untuk menjatuhkan orang lain, atau mempermalukan orang lain. Tapi memberikan peringatan bagi orang iman, agar yang lupa menjadi ingat, yang salah bisa sadar, yang belum faham menjadi faham dan yang sudah faham bertambah kefahamannya.
4. Disampaikan dengan andab ashor dan irama baik
Penyampaian dengan sopan santun, andab ashor, dan irama yang baik akan mudah diterima daripada dengan cara keras dan kasar. Menasehati dengan menghadirkan hati akan mudah diterima dan masuk kedalam hati penerima. Prinsip ini harus menjadi dasar penasehat.
5. Berpasrah diri pada Allah
Setelah memberi nasehat berpasrahlah kepada Allah. Menyerahkan semua pada Allah, sebab semua ilham baik dari Allah dan kita hanyalah manusia biasa tidak akan bisa merubah seseorang menjadi lebih baik jika Allah tidak menghendaki. Jangan merasa beban orang yang diberi nasehat harus seketika berubah jadi baik. Tugas kita hanya saling memberi nasehat. Ketika tugas selesai berarti kita sudah berhasil.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda, “Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai menyayangi saudaranya sebagaimana ia mencintai menyayangi dirinya sendiri”.H.R Bukhori. Saling menasehati bukan untuk menyakiti tapi sebab mencintai dan menyayangi.

(Samsul Anam)

#DAKWAH

Check Also

Adam Alis Generus LDII Peraih Pemain Terbaik Piala Presiden 2017

Adam Alis menjadi kebanggaan warga Malang sebab menjadi penentu kemenangan Arema FC melaju ke babak …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *